Kata-kata Bijak Islami

Senin, Februari 18, 2013

Orang yang tidak menguasai matanya, hatinya tidak ada harganya
-Khalifah Ali bin Abi Talib-
Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan tapi ilmu bertambah bila dibelanjakan.
-Khalifah Ali bin Abi Talib-
Nilai seseorang sesuai dengan kadar tekadnya, ketulusannya sesuai dengan kadar kemanusiaannya, keberaniannya sesuai dengan kadar penolakannya terhadap perbuatan jahat dan kesucian hati nuraninya sesuai dengan kadar kepekaannya terhadap kehormatan dirinya.
-Khalifah Ali bin Abi Talib-
Orang yang terlalu memikirkan akibat dari sesuatu keputusan atau tindakan, sampai bila-bilapun dia tidak akan menjadi orang yang berani.
-Khalifah Ali bin Abi Talib-
Orang-orang yang suka berkata jujur mendapatkan tiga hal, kepercayaan, cinta, dan rasa hormat.
–Khalifah Ali bin Abi Thalib-
Ketahuilah bahwa sabar, jika dipandang dalam permasalahan seseorang adalah ibarat kepala dari suatu tubuh. Jika kepalanya hilang maka keseluruhan tubuh itu akan membusuk. Sama halnya, jika kesabaran hilang, maka seluruh permasalahan akan rusak.
–Khalifah Ali bin Abi Thalib-
Selemah-lemah manusia ialah orang yg tak mau mencari sahabat dan orang yang lebih lemah dari itu ialah orang yg mensia-siakan sahabat yg telah dicari.
–Khalifah Ali bin Abi Thalib-
Perkataan sahabat yg jujur lebih besar harganya daripada harta benda yg diwarisi darinenek moyang.
–Khalifah Ali bin Abi Thalib-
Selemah-lemah manusia ialah orang yg tak boleh mencari sahabat dan orang yang lebih lemah dari itu ialah orang yg mensia-siakan sahabat yg telah dicari
–Khalifah Ali bin Abi Thalib-

Pepatah Bahasa Arab


1. مَنْ سَارَ عَلىَ الدَّرْبِ وَصَلَ
1. Barang siapa berjalan pada jalannya sampailah ia

2. مَنْ جَدَّ وَجَدَ
2. Barang siapa bersungguh-sungguh, dapatlah ia

3. مَنْ صَبَرَ ظَفِرَ
3. Barang siapa sabar beruntunglah ia

4. مَنْ قَلَّ صِدْقُهُ قَلَّ صَدِيْقُهُ
4. Barang siapa sedikit benarnya/kejujurannya, sedikit pulalah temannya.

5. جَالِسْ أَهْلَ الصِّدْقِ وَالوَفَاءِ
5. Pergaulilah orang yang jujur dan menepati janji.

6. مَوَدَّةُ الصَّدِيْقِ تَظْهَرُ وَقْتَ الضِّيْقِ
6. Kecintaan/ketulusan teman itu, akan tampak pada waktu kesempitan.

7. وَمَااللَّذَّةُ إِلاَّ بَعْدَ التَّعَبِ
7. Tidak kenikmatan kecuali setelah kepayahan.

8. الصَّبْرُ يُعِيْنُ عَلىَ كُلِّ عَمَلٍ
8. Kesabaran itu menolong segala pekerjaan.

9. جَرِّبْ وَلاَحِظْ تَكُنْ عَارِفًا
9. Cobalah dan perhatikanlah, niscaya kau jadi orang yang tahu.

10. اُطْلُبِ العِلْمَ مِنَ المَهْدِ إِلىَ اللَّحْدِ
10. Tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga liang kubur.

11. بَيْضَةُ اليَوْمِ خَيْرٌ مِنْ دَجَاجَةِ الغَدِ
11. Telur hari ini lebih baik daripada ayam esok hari.

12. الوَقْتُ أَثْمَنُ مِنَ الذَّهَبِ
12. Waktu itu lebih mahal daripada emas.

13. العَقْلُ السَّلِيْمُ فيِ الجِسِْم السَّلِيْمِ
13. Akal yang sehat itu terletak pada badan yang sehat.

14. خَيْرُ جَلِيْسٍ فيِ الزَّمَانِ كِتَابٌ
14. Sebaik-baik teman duduk pada setiap waktu adalah buku.

15. مَنْ يَزْرَعْ يَحْصُدْ
15. Barang siapa menanam pasti akan memetik (mengetam).

16. خَيْرُ الأَصْحَابِ مَنْ يَدُلُّكَ عَلىَ الخَيْرِ
16. Sebaik-baik teman itu ialah yang menunjukkan kamu kepada kebaikan.

17. لَوْلاَ العِلْمُ لَكَانَ النَّاسُ كَالبَهَائِمِ
17. Seandainya tiada berilmu niscaya manusia itu seperti binatang.

18. العِلْمُ فيِ الصِّغَرِ كَالنَّقْشِ عَلىَ الحَجَرِ
18. Ilmu pengetahuan diwaktu kecil itu, bagaikan ukiran di atas batu.

19. لَنْ تَرْجِعَ الأَياَّمُ الَّتيِ مَضَتْ
19. Tidak akan kembali hari-hari yang telah berlalu.

20. تَعَلَّمَنْ صَغِيْرًا وَاعْمَلْ بِهِ كَبِيْرًا
20. Belajarlah di waktu kecil dan amalkanlah di waktu besar.

21. العِلْمُ بِلاَ عَمَلٍ كَالشَّجَرِ بِلاَ ثَمَر
21. Ilmu tiada amalan bagaikan pohon tidak berbuah.

22. الاتِّحَادُ أَسَاسُ النَّجَاحِ
22. Bersatu adalah pangkal keberhasilan.

23. لاَ تَحْتَقِرْ مِسْكِيْنًا وَكُنْ لَهُ مُعِيْناً
23. Jangan engkau menghina orang miskin bahkan jadilah penolong baginya.

24. الشَّرَفُ بِالأَدَبِ لاَ بِالنَّسَبِ
24. Kemuliaan itu dengan adab kesopanan, (budi pekerti) bukan dengan keturunan.

25. سَلاَمَةُ الإِنْسَانِ فيِ حِفْظِ اللِّسَانِ
25. Keselamatan manusia itu dalam menjaga lidahnya (perkataannya).

Sinopsi Novel Rindu Maryam

Minggu, Februari 03, 2013


Judul Rindu Maryam : Dia-lah Kekasihku yang Sebenarnya  
No. ISBN 9786022550013 
Penulis Arini Hidajati 
Penerbit Diva Press 
Tanggal terbit November - 2012 
Jumlah Halaman 356 
Berat Buku -
Jenis Cover Soft Cover 
Dimensi(L x P) -
Kategori Romance 
Bonus
Text Bahasa Indonesia ·

Maryamah malu jika berbicara tentang cinta.
Malu dan teramat malu. Itu karena ia tak punya apa-apa yang bisa ia banggakan di hadapan siapa saja. Ia malu, sungguh teramat malu, entah ketika ia dicinta atau mencinta. Ia hanya memenuhi hatinya dengan sepenuh rindu dan harap akan rindu dan cintanya kepada Tuhan.



Maryamah Zakariya, gadis yang hanya ingin mencinta dan mencinta. Namun, bukan kepada sesama cintanya ia tujukan, melainkan kepada Sang Pemilik Hidup. Ia memenuhi hari-harinya dengan beribadah. Bahkan, ia sempat berangan untuk hidup melajang selamanya, mengikuti jejak hidup Maryam.

Namun, adalah keinginan setiap ibu untuk melihat putrinya menjalani kebersamaan sebagaimana jalan yang orang-orang umum tempuh. Karena itulah, Maryamah memutuskan menerima lamaran Habib, pemuda sebatang kara yang dulu pernah datang kepadanya.

Menikahi Habib yang sebatang kara dan tak punya apa-apa, kemudian hidup di tengah alas. Apa yang Maryamah cari? Mengapa gadis itu rela menghabiskan hidupnya menempuh jalan yang tak semua orang mau menapakinya?

Sebuah refleksi atas kerinduan Maryamah akan kehidupan yang ditempuh Maryam yang penuh dengan sembah kepada Allah. Menghadirkan wacana cinta lain dengan bingkai bahasa yang indah, kisah dalam novel ini kaya akan renungan-renungan yang menggiring pada sebuah kesejatian cinta, untuk kemudian menuju ke kesejatian hidup.

Selamat membaca!


"Paparan-paparan dan dialog-dialog di dalamnya dipenuhi dengan bahasa-bahasa indah dan renungan-renungan. Kekuatan bahasa puitis ini menjadi sensasi tersendiri bagi kita para pembaca, apalagi jika kemudian kita merasa diantarkan oleh bahasa puitis itu untuk bisa menyelami kedalaman wacana cinta mistis yang menjadi ruh novel ini."

Catatan terserak tentang NU



Sebagian besar warga Nahdliyin yang ada saat ini, jika diamati prosesnya menjadi NU, maka sebagian besar lahir karena faktor lingkungan. Hal ini tidaklah mengherankan, sebab kalau ditelisik lebih jauh kita menjadi orang beragama Islam pun juga lebih dikarenakan faktor lingkungan tersebut. Semenjak kecil kita selalu diajari solat dan mengaji di masjid atau musholla, karena Jika kita tidak sholat dan tidak ngaji maka akan dibilang masuk neraka. Proses – proses semacam inilah yang menjadikan kita NU. Ini artinya bahwa kita menjadi NU lebih karena konstruksi sosial. Karena itulah militansi dan pengetahuan waraga NU sendiri tentang NU juga berbeda – beda. Seseorang yang orang tuanya menjadi pengurus NU tentu akan mempunyai pemahaman tentang NU yang berbeda dengan yang orang tuanya bukan NU

Secara Teks, kita tahu bahwa NU berdiri pada tanggal 31 Januari 1926 atau 14 tahun sesudah Muhammadiyah berdiri. Tetapi secara tradisi, budaya, dan cara keberagamaan, NU sudah ada sejak berabad – abad yang lalu bersamaan dengan awal perkembangan Islam di Indonesia yang disebarkan oleh Walisongo. Dalam mengembangkan dakwah Islam di Nusantara, para wali tersebut menggunakan cara – cara yang santun, pendekatan akhlaq, Uswah dan sangat menghormati semua tradisi masyarakat yang sudah ada / hadir di masyarakat. Namun demikian bukan berarti semua tradisi yang ada dianggap benar, melainkan secara perlahan – lahan dimasuki dan diganti dengan unsur – unsur Islam. Sebagai bukti adalah beberapa tradisi budaya yang saat ini masih ada di kalangan Nahdhiyyin sebagai berikut :
  1. Dalam masyarakat Syiwa – Budha ajaran Yoga tantra dari sekte Sakhta ada tradisi yang dinamakan Upacara Pancamakara / Ma – Lima / 5 M : Mamsya (daging), Matsya (ikan), Madya (Minuman keras), Maituna (bersetubuh), Mudra (semadi). Peserta upacara terdiri dari laki – laki dan perempuan membentuk lingkaran dengan telanjang pakaian. Kemudian di tengahnya terdapat makanan, lauk pauk dan Miras. Setelah makan dan mabuk kemudian saling bersetubuh dan bersemadi.
Nah, para wali kemudian mengubah upacara ini dengan tetap membentuk lingkaran tetapi makananannya diganti dengan makanan dan minuman yang halal serta tidak ada semadi tetapi diganti dengan sekian rapalan doa tahlil. Tradisi inilah yang sekarang kita kenal dengan istilah kenduri. Istilah ini sendiri berasal dari bahasa persia yaitu “ Kandhuri” yang berarti Upacara. Di persia ada Upacara Kandhuri untuk memperingati Fatimatuzzahro.
  1. Dulu masyarakat menyebut cara beribadah dengan nama “Sembah Hyang”. akan Sulit rasanya mengubah menjadi “Shalat”. Maka diganti dengan kata Sembayang.
Begitu juga kata Sanggar yang digunakan sebagai tempat sembahyang diganti dengan kata Langgar agar tidak kesulitan mengucapkan Mushalla.
Dalam Masyarakat juga ada tradisi menahan makan dan minum yang disebut Upawasa. Kata Shoum tentu sulit diterima. Maka yang digunakan adalah puasa.

Karena tradisi NU telah ada besamaan dengan masuknya Islam di Indonesia maka, Islam Khas Indonesia adalah Islam ala Nahdlatul Ulama. Sebelum NU berdiri kan sudah ada : Tasywirul afkar,  Nahdlatul Tujjar, dan Nahdlatl Wathon. Dalam mengartikan NU pun, masyarakat banyak penafsiran. Ada yang memaknai NU dengan tahlilan, ada juga yang menyebut organisasi sarungan bahkan sampai ada yang menyebut organisasi bid’ah. Namun yang sesungguhnya NU itu seperti kunci inggris. Masalah apapun, Insya Allah di NU ada jawabannya. Karena itulah NU bisa bertahan dengan tradisinya yang kaya. Tradisi di NU, jika sowan di kyai pasti diberi makan. Orang tentu akan bingung mencari caran agar tidak kenyang jika kita bertamu di rumah 11 kyai, Atau bagaimana caranya agar tamu kita yang banyak bisa makan semuanya ? Itu semua bisa terjawab  dengan  tradisi NU
Kalau kita amati dengan seksama, NU itu mempunyai beberapa kekuatan yang erat kaitannya dengan sejarah yang sangat besar di NU diantaranya : Tradisi keilmuan dan intelektual : Tradisi keilmuan di NU antara lain lewat Kitab Kuning yang diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Lewat kitab kuning ini pulalah berbagai macam ilmu besar dan penting diwariskan seperti Fiqih, Ushul Fiqh, Ilmu Hadits dll. Baik yang pernah di pesantran atau tidak, dalam mengaplikasikan hukum Islam bisa sempit dan bisa fleksibel karena Fiqih. Fiqh ini sudah ribuan tahun sejak jamannya imam madzhab atau kurang lebih 1400 tahun yang lalu. Hampir semua peradaban besar di muka bumi ini selalu berawal dari pemikiran besar dan sejarah tradisi yang besar. Dengan demikian, secara keilmuan, maka sebenarnya tidak ada yang mampu menandingi NU karena kompleksitas yang dipunyai NU. Dari Fiqih dan cabang ilmu – ilmu yang lainnya inilah kita memahami alquran, hadist, dll.

Dalam banyak kasus individu maupun kelompok, jika tidak ditemukan dasar hukum suatu hal pada Nash, maka yang terjadi adalah radikalisme. Tetapi ini tidak terjadi pada NU. Karena NU masih mempunyai banyak sumber lain. Yaitu jika menurut Imam syafii begini…..Imam Hanafi begini…..Dll. Jika kita sering merasa tertinggal dan merasa tidak modern dibanding orang lain, sebenarnya karena pendekatan kita yang sudah sangat liberal. Sehingga ketika melihat tradisi kita, akan ada rasa seperti tertinggal. Di sinilah sebenarnya kita (baca : NU ) itu sudah lebih modern dibanding dengan kaum modernis. Dalam memandang keberadaan kyai yang notabenenya merupakan penjaga gawang moral NU pun, akhir – akhir ini kita sering agak miring. Padahal jika tercermati secara mendalam, maka kita akan mengetahui bahwa kyai adalah tokoh pembaharu masyarakat. Coba aja Baca buku ” Kyai nyentrik” : Di sana akan ketemu Betapa banyak kyai yang pemikiannya mendahului jamannya. Kenapa kita memandang kolot ?, itu karena cara berpikir kita saja. NU jauh lebih maju dari yang lain. Ketika Masyumi atau yang lain tidak bisa mendirikan dan menerima Pancasila, maka mereka memberontak. Tapi NU yang dituduh ketingglan jaman justru bisa merumuskan pancasila tanpa kehilangan identitasnya. Meskipun NU selalu tampak reaksioner ( ketika ada masalah baru bisa menanggapi ) tetapi justru di sinilah letak Jiwa besar dan betapa penuh pertimbangan jika NU mau memutuskan persoalan besar yang berhubungan dengan ummat agar ummat tidak terjerumus.

Mengembalikan Jati Diri IPNU sebagai Organisasi Pelajar


Organisasi pelajar di Indonesia ini cukup banyak; ada Pelajar Islam Indonesia (PII) yang berafiliasi ke Ormas Masyumi, Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU), dll. Lantas, kemana mereka selama ini ? mengapa tidak ada di dalam sekolah seperti OSIS dan Pramuka ?

Sesungguhnya organisasi – organisasi tersebut, dahulu berada di lingkungan sekolah dan menjadi salah satu pilihan bagi setiap siswa dalam rangka mengembangkan minat dan bakat yang sudah barang tentu disesuaikan dengan keyakinan yang mereka anut. Selain sebagai media pengembangan diri melalui minat dan bakat, mencari pengalaman, menyalurkan hobi, organisasi – organisasi ini juga menjadi sumber inspirasi bagi para aktifis dan anggotanya untuk melakukan pembacaan kritis terhadap pemerintah atas situasi dan kondisi pendidikan di Indonesia, baik pada ranah kualitas maupun ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan. Melalui organisasi – organisasi ini pulalah telah lahir banyak sekali pemimpin, tokoh, akademisi, pemikir yang saat ini duduk sebagai petinggi negeri ini baik pada jalur partai politik, birokrasi, maupun jalur lainnya.

Hal tersebut juga dialami oleh IPNU. Keberadaan IPNU yang lahir pada tanggal 24 Februari 1954 dan  lahir tanggal 2 Maret 1955 sesungguhnya merupakan organisasi pelajar yang besar dan berwibawa. Bahkan Muktamar IPNU yang pertama tanggal 28 Februari 1955 di Malang, presiden Soekarno dan pejabat tinggi lainnya seperti wakil perdana menteri dan menteri agama, menyempatkan hadir pada saat pembukaan. Hal ini membuktikan bahwa IPNU dan  sebagai anak kandung Nahdlatul Ulama mempunyai makna dan peran yang besar terutama saham atas berdiri dan tegaknya NKRI di era perjuangan dan awal-awal kemerdekaan Indonesia.

Sampai dengan awal tahun 1980 an, IPNU masih mempunyai kepanjangan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama. Namun keberadaan IPNU dan beberapa organisasi berbasis pelajar lainnya ternyata disikapi lain pada saat pemerintah orde baru. Dengan dalih mengembalikan sekolah pada dunia pendidikan serta menghindari konflik antar organisasi serta demi tercapainya prestasi akademik yang tinggi bagi setiap siswa, maka orde baru mengeluarkan UU No 8 tahun 1985 dan SKB 3 Menteri yang melarang Ormas berbasis pelajar masuk di sekolah – sekolah, serta menjadikan OSIS sebagai satu – satunya organisasi bagi pelajar di sekolah. . Oleh karena itu hanya ada dua pilihan bagi IPNU waktu itu, yaitu antara dibubarkan pemerintah atau memilih berganti nama menjadi “Putra” dan bergerak di luar lembaga sekolah Maka, pada Kongres IPNU X di Jombang tahun 1988, demi menghindari buldoser Orde Baru dan asas penyelamatan institusi IPNU maka kongres memutuskan merubah Akronim ‘P’ pada IPNU menjadi ‘Putra’. Mulai saat itulah IPNU dan  mulai tidak lagi didengar gaungnya di sekolah – sekolah terutama yang bernaung di bawah LP. Ma’arif.

Sesungguhnya keberadaan OSIS sebagai satu – satunya organisasi di sekolah merupakan bentuk pengebirian pemerintah terhadap dunia pelajar. Betapa tidak, setidaknya ada beberapa alasan ; Pertama, OSIS adalah organisasi yang hanya mempunyai hubungan struktur di dalam sekolah yang bersangkutan (baca; lokal) dan tidak mempunyai jaringan berskala nasional. Kedua, dengan melokalisir gerakan pelajar pada satu sekolah tersebut, maka pelajar di Indonesia tidak dapat menyatukan gagasan dan aspirasi serta kritik pendidikan terhadap pemerintah karena gagasan akan berhenti pada institusi sekolah tersebut. Ketiga, dengan melokalisir gerakan pelajar, maka pemerintah orde baru akan dengan mudah menundukkan dan mengontrol gerakan dan gagasan pelajar yang berpotensi merusak citra dan kehormatan orde baru. Keempat, dengan OSIS sebagai satu – satunya organisasi intra sekolah, akan dengan mudah bagi penguasa untuk menggiring siswa pada ideology / keyakinan tertentu sesuai dengan selera penguasa. Dengan demikian, OSIS pada waktu itu adalah salah satu bentuk penyeragaman yang dilakukan oleh orde baru sebagai upaya mengebiri aktifitas siswa oleh pemerintah. Jika dicermati, kebijakan ini adalah bentuk lain penyekatan gerakan pelajar agar bersifat terbatas dan tidak terorganisir secara nasional.

Pasca Reformasi 1998 di Indonesia, telah memunculkan kesadaran baru di kalangan aktifis IPNU. Pada era ini muncul kesadaran bersama untuk mengembalikan IPNU pada garis kelahirannya, yaitu kembali ke basis pelajar. Maka Kongres IPNU XIV dan  XIII di Surabaya tahun 2003 memutuskan IPNU kembali ke ‘ Ikatan pelajar nahdlatul Ulama’ dan  kembali menjadi ‘Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama’. Keputusan tersebut merupakan pilihan terbaik di tengah perubahan dan kompleksitas tantangan yang dihadapi Nahdlatul Ulama. Sebab pelajar adalah segmen penting yang harus dibina dan diapresiasi, karena komponen inilah yang sejatinya menjadi aset masa depan. Pelajar NU sebagai kekuatan masa depan pada waktu-waktu lalu kurang mendapat perhatian yang optimal oleh Nahdlatul Ulama. Oleh karena itu saat ini IPNU dibutuhkan sebagai organisasi yang secara intensif menjadi wadah pemberdayaan pelajar NU. Bagi Nahdlatul Ulama, IPNU dan  merupakan generasi yang paling mungkin untuk didesain dan ditata sedemikian rupa menjadi generasi penerus dan pewaris Nahdlatul Ulama, karena terdiri dari kader yang relative homogen dalam level pemikiran, yang memungkinkan untuk membentuk dan melakukan sikap yang sama atas sebuah fenomena dan permasalahan.

Dengan keterbukaan akses informasi serta kebebasan berkumpul dan berserikat sebagi konsekuensi logis dari Negara demokrasi, mestinya kebijakan pemerintah tentang organisasi berbasis pelajar harus dirubah. Bahkan, sudah banyak sekolah – sekolah yang mengganti OSIS dengan organisasi lainnya. Hal ini terjadi terutama di sekolah – sekolah swasta. Namun demikian masih banyak sekolah yang yang tidak menerima kehadiran organisasi selain OSIS. Lantas bagaimana posisi IPNU di sekolah ? di sekolah – sekolah negeri IPNU dapat berperan sebagai organisasi ekstra kampus, sedangkan di Sekolah – sekolah di bawah naungan LP Ma’arif sudah saatnya IPNU dan  mengantikan posisi OSIS. Toh saudara kita dari ormas lain juga sudah melakukan hal serupa.

Mengapa Harus IPNU  ?

Gambaran bangsa Indonesia di masa datang secara tidak langsung tergambar dari kualitas pelajarnya saat ini. Pelajar sebagai generasi muda merupakan pewaris sejarah sekaligus cermin miniature peradaban. Betapa tidak, hasil belajar tentu tidak hanya diukur dari nilai akademik di sekolah tetapi juga dari proses pengalaman hidup pelajar dalam bersosialisasi dengan lingkungannya,  Hal ini akan jadi sandaran utama bagi tindak lanjut pembangunan bangsa. Sebab siapa lagi yang akan meneruskan tahapan cita – cita bangsa, jika bukan para generasi muda yang sarat dengan bekal keilmuan. Pelajar dituntut memperkaya diri dengan kelengkapan perangkat skill maupun pengetahuan di tengah fluktuasi kehidupan yang serba rumit. Pelajar harus selalu menempa diri dengan pengalaman, keilmuan dan sikap mental kokoh agar menjadi generasi yang mendekati sempurna sehingga mampu menjawab berbagai problem zaman dengan tawaran konsep dan formula baru sesuai dengan konteks zamannya.
Menurut KH. Hasyim Muzadi mantan Ketua Umum PBNU, IPNU menjadi penting bagi pelajar NU karena kader NU harus dibekali dua macam keilmuan ; Pertama, keilmuan disipliner dimana kader NU (baca;IPNU) belajar dan sekolah dan kedua, keilmuan keagamaan visioner. Keagamaan Visioner berarti bagaimana Kader NU di sekolah – sekolah dapat juga mewarisi cara berpikir keagamaan Nahdlatul Ulama, tidak hanya mewarisi format organisasinya. Hal tersebut penting agar tidak terjadi kegagalan sebagaimana organisasi islam lainnya yang hanya berbentuk format kepemimpinan, tetapi ideologinya hilang. Organisasi model inilah yang sering melahirkan koruptor, dengan demikian, Islam tidak lagi bisa menjadi filter dari tindakan – tindakan amoral. ( Demi IPNU- Upaya memformat Gerakan IPNU pasca Kongres Surabaya ).

Diambang Sore nan lalu

Sabtu, April 07, 2012

 

Dalam renunganku seorang 
Diambang sore nan lalu 
Tiada bisikan tenang 
Tamasya indahku bisu

Kesatu arah tertentu 
Kulepaskan pandanganku
 Ketempat janji bertemu 
Simpang tiga rumpun bambu

Tiap sore kunantikan 
Disimpang tiga titian 
Dengan debar kasih sayang 
Kata mesra pengharapan 

Entah apa sebabnya 
Tiada khabar berita
 Ujung senja kunantikan 
Namun dikau tiada datang 

Ibu "Setengah Jiwaku"


Sebening tetesan embun pagi
Secerah sinarnya mentari
Bila ku tatap wajahmu ibu
Ada kehangatan di dalam hatiku

Air wudhu selalu membasahimu
Ayat suci selalu dikumandangkan
Suara lembut penuh keluh dan kesah
Berdoa untuk putra putrinya

Oh ibuku engkaulah wanita
Yang ku cinta selama hidupku
Maafkan anakmu bila ada salah
Pengorbananmu tanpa balas jasa

Ya Allah ampuni dosanya
Sayangilah seperti menyayangiku
Berilah ia kebahagiaan
Di dunia juga di akhirat

"Forgive me Mom i haven't been realize my promise to make you proud"